Profil

 

Tentang KSPPM

 

Terinspirasi dari kelompok diskusi atas  persoalan-persoalan sosial  dan perjuangan masyarakat di Sumatera Utara  khususnya  persoalan lingkungan dan kasus struktural lainnya pada awal 1980-an, oleh sekelompok warga gereja dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan, mendirikan KSPH (Kelompok Studi Penyadaran Hukum) pada 4 Februari 1984, beralamat di Siborongborong, Tapanuli Utara.

Untuk mempertajam visi dan melengkapi pendekatan dalam pelayanannya, sejak 23 Februari 1985, KSPH berganti nama menjadi KSPPM (Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat). Kemudian pada 9 September 2005, KSPPM merubah Baca Selanjutnya...>>>


 

Infosheet

prakarsa edisi Januari - Februari 2014

 

4 April 2013

Hutan Tele "Primadona" Pengusaha Kayu

 

4 Maret 2013

Pesan Juang dari Balik Jeruji

 

1 Maret 2013

Ketika Moncong Senjata Menjadi Cara Penyelesaian Konflik


27 Februari 2013

Kronologi Penangkapan warga Pandumaan dan Sipituhuta


16 November 2012

Habis Takut Muncul Berani

 

13 Oktober 2012

Berani Mati Demi Hidup: Kisah Paska Bentrok Warga Pandumaan - Sipituhuta dengan TPL dan Aparat

 

12 Oktober 2012

Kronologis Kasus Warta Pandumaan - Sipituhuta VS TPL: Penyelesaian Sengketa Berkepanjangan, Warga Bentrok dengan TPL dan Aparat

 

12 November 2012

Menabur Uang, Menebar Konflik, Menyuburkan Korupsi

 

10 Oktober 2012

Akibat Penyelesaian Sengketa yang Berkepanjangan: Warga Pandumaan-Sipituhuta Bentrok dengan TPL dan Aparat, Desa pun Mencekam


10 Oktober 2012

Security TPL Diserahkan Ke Camat dan Polsek

 

6 oktober 2012

Laporan: Pelanggaran Hak Masyarakat Adat desa Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kab. Humbahas VS PT Toba Pulp Lestari (TPL)

 

20 juli 2012
Laporan: Perampasan Tanah Adat Bius Lottung Sinaga Situmorang 15 Turpuk oleh Pemerintah Kabupaten Dairi

 

20 juli 2012
Lebih Baik Dihuni Harimau Ketimbang Diserahkan ke PT GAP

 

6 Mei 2012

Masyarakat Sibisa Tuntut Pengembalian Tanah kepada Dinas Kehutanan Tobasa

 

21 Februari 2012

Dari Penghijauan, Reboisasi ke Program Pengkayaan Hutan

 

15 Februari 2012

Semerbak Wangi Bunga "Korea" Versus Aroma khas Hutan Lintong Batu Napal (Hariara Pintu)

 


 

 

 

 




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 



 


 

 

 

 

 



Berani Mati Demi Hidup: Kisah Paska Bentrok Warga Pandumaan-Sipituhuta dengan TPL dan Aparat

 

Editorial

Dinamika 30 Tahun KSPPM

 

30 TAHUN kehadiran KSPPM di tengah atau bersama-sama dengan rakyat, tentu ada  momen-momen pencerminan eksistensi dan dinamika KSPPM dalam mensiasati dan menyikapi perkembangan kondisi politik, hukum, ekonomi, dan sosial yang dari ke waktu belum mengalami perubahan yang cukup berarti. Malah di berbagai aspek mengalami kemunduran dan ketimpangan. Di mana hanya sekelompok kecil hidup dengan berkelimpahan, tetapi sebagian besar rakyat hidup dalam kemiskinan, kelaparan, dan menderita.


Studi tematis

Hidup yang Dibangun di atas Batu

 

SAYA amat gembira karena diundang berbagi perenungan iman di dalam komunitas studi dan pemberdayaan demi prakarsa masyarakat ini. Kegembiraan itu bertambah-tambah karena percakapan iman (yaitu teologi) diizinkan masuk ke dalam proses studi dan gerakan sosial yang dimotori komunitas KSPPM ini.


Sepotong kisah dari T.B. Simatupang tampaknya bisa menambah arti kegembiraan di atas. Pada tahun 1966 Paul Abrecht dari DGD bertanya tentang kesibukan pak Sim, lalu jawabnya, “saya sibuk membaca 3 Karl, yaitu Marx,

 

Studi Tematis

 Tonggak Baru Politik Agraria Indonesia,

Putuskan Mahkamah Konstitusi atas Perkara No.35/PUU-X/2012:

Masyrakat Hukum Adat adalah Penyandang Hak, Subjek Hukum,

dan Pemilik wilayah Adatnya.


Pengantar

Sejak 16 Mei 2013, hutan adat bukan lagi bagian dari hutan negara yang berada di bawah penguasaan Kementerian Kehutanan, tapi “hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat”. Mahkamah Konstitusi memutuskan demikian dalam perkara nomor 35/PUU-X/2012, berkenaan dengan gugatan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bersama dua anggotanya, yakni kesatuan masyarakat hukum adat Kenegerian Kuntu, dan kesatuan masyarakat hukum adat Kasepuhan Cisitu

 


Analisi APBD Tobasa 2014

Anggaran masih belum berpihak kepada masyarakat


AKHIRNYA, setelah melalui perdebatan panjang serta pendapat para fraksi yang terdiri dari lima fraksi yaitu fraksi Partai Demokrat, fraksi PDIP, fraksi PPRN, fraksi Toba Bersatu serta fraksi Persatuan Tobasa, akhirnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Toba Samosir mensahkan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Toba Samoir 2014 tepatnya Jumat, 17 Januari 2014 lalu.

 

Tombak Haminjon: Surga Kehidupan

UDARA yang dihembuskan dari mulut terlihat seperti uap air yang bertebaran di langit. Sudah lebih dari tiga bulan hujan tak kunjung datang di daerah ini, membuat pagi di Desa Pandumaan semakin dingin. Satu hari sebelumnya, kami disuguhkan dengan pengrusakan hutan (deforestasi) dan konversi hutan alam menjadi eucalyptus di Parlombuan, Kecamatan Sipahutar - Tapanuli Utara.  Pagi ini, kami bersama teman dari Rainforest Action Network (RAN) dan empat warga berencana untuk melihat isi hutan adat milik masyarakat adat Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Humbang Hasundutan, yakni Tombak Haminjon (Hutan kemenyan) yang masih terjaga dan dilindungi oleh masyarakat adat Pandumaan dan Sipituhuta sebagai sumber mata pencarian dan identitas budaya mereka.


 

Kembalikan Keindahan Alam Samosir


Pendahuluan

LINGKUNGAN adalah kumpulan biotik dan abiotik. Biotik, misalnya tumbuhan, manusia, hewan, dan sejenisnya. Sedangkan abiotik, misalnya batu, tanah, air, dan sejenisnya. Hubungan biotik dan abiotik sangat berkaitan erat. Contohnya, manusia tidak dapat hidup jika air tidak ada, sebaliknya pula air tidak akan bersih dan mengandung banyak bakteri  jika manusia mencemarinya. Wow, fantastic! Jadi kita harus menjaga kebersihan air kalau begitu! Ya, benar sekali, itulah yang saya singgung, di mana Danau Toba kita sudah terlihat kotor dan tidak terjaga. Saya akan ceritakan sedikat tentang asal-usul Danau Toba menurut para ahli.

 


Selamatkan Danau Toba

BERBICARA tentang Danau Toba mengingatkan saya kepada masa kecil. Dulu, orangtua saya selalu bercerita bahwa Danau Toba merupakan danau yang sangat menakjubkan. Orangtua saya mengatakan bahwa Danau Toba memiliki pemandangan alam yang luar biasa indah. Airnya sangat bersih, berwarna biru, hutannya hijau dan asri, serta penduduknya cukup makmur. Indahnya Danau Toba tersebut membuatku selalu ingin kembali dan menghabiskan waktu luang di sana.


Wisata ke Danau Toba

Menemukan Gagasan Pelestarian Kawasan Danau Toba

HARI ini suasana begitu ramai di rumah. Kemarin, paman, bibi bersama dengan keempat anaknya, Erna, Elisa, Erik dan Edo tiba dari Jakarta. “Jadi piknik ke Danau Toba besok, yah?” Aku bertanya pada ayahku. “Jadi”, jawab ayah dengan serius. “Ke Parapat?“ tanyaku lagi. “Tidak, kita ke Pulau Samosir. Pantai pasir putih di sana panoramanya sangat indah, juga landai. Supaya kamu, adik-adik dan sepupumu bebas berenang di sana”, jawabnya kemudian. Hatiku berbunga-bunga. Keluarga besar kami akan wisata ke Danau Toba. Aku sudah tidak sabar menunggu datangnya besok hari.

 

Partisipasi Membangun Desa

KONSEP partisipasi dewasa ini selalu didengung-dengungkan, khususnya oleh pemerintah. Dan biasanya istilah ini selalu ditujukan kepada rakyat, bagaimana rakyat berpartisipasi dalam pembangunan. Ada banyak pengertian mengenai konsep partisipasi. Bila dilihat dari asal katanya, kata partisipasi berasal dari kata (bahasa Inggris) “participation” yang artinya pengambilan bagian, pengikutsertaan (John M. Echols dan Hasan Shadily).

 

Lomba Kebersihan Desa

BERSIH pangkal sehat, kata-kata ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita, bisa dikatakan hampir tidak ada yang tidak pernah mendengarnya. Seruan ini sering kita dengarkan disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya, guru kepada siswanya atau siapapun dengan tujuan agar kita tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan  di mana kita berada agar terhindar dari berbagai penyakit.

 

Berbagi Kebahagiaan dengan Pengungsi Letusan Gunung Sinabung

SETELAH menempuh perjalanan empat  jam lamanya, akhirnya tiga mobil yang kami kendarai sampai di Jalan Kiras Bangun, kantor Klasis Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Kabanjahe, yang merupakan salah satu lokasi pengungsian. Minggu, 12 Januari 2014 lalu, kami, para staf KSPPM, berkesempatan untuk berbagi tali asih dengan korban letusan Gunung Sinabung

 

 


 

Prakarsa edisi sebelumnya ...>>>

 


  


-->