Kerusakan Hutan Tele dan Banjir Bandang

di Sianjur Mula-mula

(Rocky Pasaribu)


“Duar...duar...duar..tiba tiba terdengar seperti suara petir. Namun saat aku melihat ke belakang, ternyata suara tersebut dari Binanga Homang. Aku langsung berlari lalu memanjat pohon. Aku sangat  takut karena air sudah masuk ke ladangku”, jelas Opung GABRIEL Sinambela menceritakan terjadinya banjir yang merusak sebagian perladangannya.


Rabu, 21  Maret sekitar pukul 16.00 WIB terjadi  banjir bandang yang menimpa Desa Habeahan, Desa Sarimarihit, dan Desa Aek Sipitudai Kecamatan Sianjur Mula-Mula Kabupaten Samosir. Banjir mengakibatkan puluhan hektar sawah, perladangan milik masyarakat mengalami kerusakan akibat tertimbun pasir dan kayu kayu besar.Kejadian ini  sudah  yang kedua kalinya terjadi.  Tahun 2011 pernah terjadi banjir yang menyebabkan puluhan hektar sawah gagal panen. 


Berdasarkan keterangan Ama Anro  Pasaribu, titik awal  banjir berada di Sosor Nangka, namun karena volume air yang sangat besar  akhirnya menyebabkan kerusakan sampai ke Dusun Habeahan.   Opung Dame Pasaribu juga menambahkan sebelum terjadi banjir, masyarakat melihat air terjun dari hutan Tele berubah warna menjadi hitam.


Sehari setelah banjir bandang di Desa Habeahan  Kepala Dinas Sosial Kabupaten Samosir, Lostan Simbolon,  mendatangi lokasi.  Dari keterangan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial, mereka akan melakukan pengumpulan data kerugian yang dialami oleh masyarakat, akibat banjir bandang, selanjutnya akan memberikan bantuan kepada masyarakat. Senada dengan pernyataan Kepala Dinas Sosial, Kepala Bagian Sosial Sekretariat Pemkab Samosir juga menyampaikan akan secepatnya melakukan normalisasi terhadap sungai yang rusak, dan melakukan pengumpulan data kerugian yang dialami oleh masyarakat.


Kepala Dinas Sosial maupun Kepala Bagian Sosial Sekretariat Kabupaten Samosir menyampaikan, bahwa pengrusakan hutan tele yang dilakukan oleh berbagai pihak menjadi penyebab utama banjir di Sianjur mula mula sering terjadi. “Sebelumnya tahun lalu Desa Siboro Kecamatan Sianjur Mula mula mengalami hal yang sama”, ujarnya ketika saya menanyakan pendapatnya terkait dugaan penyebab banjir tersebut.


Kerusakan Hutan Alam Tele sudah sejak lama dikhawatirkan akan menjadi ancaman bagi desa-desa di bawahnya, seperti Kecamatan Sianjutr Mula-Mula. Pengrusakan Hutan Alam tele sudah berkali-kali diprotes oleh berbagai organisasi masyarakat sipil termasuk KSPPM. Namun upaya pemulihan Hutan Alam Tele sepertinya belum menjadi prioritas pemerintah, baik pusat maupun Pemkab Samosir, dari dahulu hingga saat ini.  Padahal banjir bandang hamper dating setiap tahun. Perambahan hutan di Tele terus belangsung hingga saat ini tanpa ada upaya penegakahn hukum dari instansi yang berwenang.


Hutan Tele memiliki fungsi vital bagi masyarakat dunia dan juga masyarakat di Samosir secara khusus. Hutan Tele juga merupakan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Tahun 2012 KSPPM, Forum Peduli Samosir Nauli (Pesona) beserta masyarakat Habeahan dan Sari Marihit telah melakukan penelusuran sungai dari bahwa sampai ke atas Hutan Tele. Ditemukan  ada empat sungai yang mengalir dari Hutan tele ke Danau Toba, yakni, Binanga Homang, Binanga Sitakkoasu, Binanga Bolon dan aek ronuan.  Khusus Aek Ronuan merupakan sumber PLTA Lae Renun yang berada di Kabupaten Dairi, dan hilir nya sampai ke Aceh singkil.


Sudah menjadi rahasia umum kondisi Hutan Tele sekarang memang sedang digempur oleh beberapa perusahaan dan pengusaha pengusaha lokal. Yang paling jelas terlihat bahwa sebagian besar Kawasan Hutan Tele merupakan wilayah konsesi PT TPL (Toba Pulp Lestari), selain itu ada izin-izin lain, seperti galian C, Sawmill dan penebangan penebangan kayu lainnya.***


 

 /dok. ksppm 2019