Rakyat Memimpin Dirinya Sendiri

Catatan Pelatihan Kader Dasar

Pada 24-26 Maret 2022, sebanyak 25 peserta dari berbagai wilayah pendampingan KSPPM seperti Kabupaten Tapanuli Utara, Toba dan Samosir mengikuti Pelatihan Kader Organisasi Tingkat Dasar di Sopo KSPPM Parapat. Peserta merupakan para petani dan kader-kader organisasi yang dipersiapkan untuk menjadi pengurus dan para pengorganisir tingkat lokal yang diharapkan nanti bisa menduduki jabatan publik dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.

Berbagai materi dibawakan selama 3 tersebut. Bapak Eliakim Sitorus menyampaikan pengenalan KSPPM dan analisa sosial; Bapak Janpatar Simamora membawakan sesi mengenai pendidikan politik rakyat; Abriani Siahaan membahas tentang pembangunan organisasi rakyat; Iwan Nando Samosir membahas mengenai kepemimpinan dan manajemen organisasi rakyat; Angela Manihuruk membawakan sesi mengenai kepemimpinan berperspektif gender; dan Pdt. Setia Ulina Tarigan membawakan refleksi teologi.

Dalam organisasi, prakarsa sangat dibutuhkan. Setiap manusia harus memiliki prakarsa dengan menggali potensi, pintar membagi waktu, selalu berpikir mengenai berbagai gejala sosial di lingkungannya dan memiliki semangat berorganisasi. “Rajin-rajinlah berdiskusi karena dari diskusi tersebut kita bisa mengetahui prakarsa teman kita dan kita juga mengetahui prakarsa diri kita sendiri. Diskusi harus berlangsung secara demokratis agar semua orang mendapatkan bagian yang sama untuk menyampaikan usulan,” jelas Eliakim.

Elfa Hutahaean menjelaskan pengalamannya saat berorganisasi. Dalam refleksinya dia mengatakan bahwa berorganisasi berarti memiliki tujuan yang sama untuk menyelesaikan masalah dan agar suara-suara masyarakat didengarkan oleh pemerintah. Organisasi juga memiliki struktur, rasa saling percaya, visi dan misi, dan SDM. Diskusi selalu ada di dalamnya.

Selain mengenai organisasi, para peserta juga berdiskusi mengenai pendidikan politik rakyat. Janpatar menyatakan bahwa manusia adalah zoon-politicon atau mahluk politik yang membutuhkan orang lain. Karena membutuhkan orang lain maka manusia membangun kebersamaan yang disebut politik. Pendidikan politik juga disebut sebagai pembelajaran politik (political learning) atau sosialisasi politik, yaitu proses pembentukan dan pengembangan sikap serta perilaku politik rakyat. Pendidikan politik merupakan faktor penting bagi terbentuknya sikap politik warga negara yang mendukung berfungsinya sistem pemerintahan secara sehat.

“Wujud nyata politik rakyat adalah peran serta rakyat dalam pengambilan berbagai keputusan politik; tujuan utamanya agar setiap proses dan kebijakan politik yang dihasilkan benar-benar mempresentasikan kepentingan dan aspirasi rakyat,” tegas Janpatar.

Dalam refleksi teologi, sosok pemimpin yang dijadikan panutan adalah Joshua. Apa yang menarik dari Joshua? Ia adalah pemimpin yang mengalami proses panjang selama 40 tahun mendampingi Musa dan menyaksikan cara kepemimpinannya. Pemimpin itu harus rendah hati, memiliki iman dan keyakinan, mau melayani dan berperan sebagai pemandu.

Pdt. Setia Ulina Tarigan menyatakan bahwa pemimpin itu bukan membuat orang takut tetapi membuat orang berkembang. Spirit memimpin kita saat ini seringkali menghambat padahal harusnya kepemimpinan itu menguatkan. Rakyat harus didengar karena rakyat sendirilah yang tahu kebutuhannya, masalah yang dihadapinya dan bagaimana bersama-sama meningkatkan kesejahteraannya.

Saat penutupan kegiatan, para peserta menyampaikan banyak harapan dan kesan. Tentu saja pelatihan ini berkelanjutan hingga para peserta menjadi kader-kader yang bijaksana, mampu memimpin, adil secara gender, mau melayani dan memiliki jiwa visioner. **
(Abadi Aritonang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *