Hujan (pada) Bulan Juni (Bagian 3): Hutan sebagai Apotek dan Laboratorium Hidup Masyarakat

Hutan alam PBM tidak hanya memiliki kemenyan sebagai “harta karun”, tetapi juga beragam tumbuhan lainnya yang beragam, beberapa diantaranya merupakan tanaman herbal yang sering digunakan untuk pengobatan tradisional. Memang tidak banyak lagi orang Batak yang memahami pengobatan tradisional, namun beberapa orang masih menggunakannya sampai sekarang. Selain sebagai petani kemenyan, Rajes Sitanggang juga sedikit tahu tentang ilmu pengobatan tradisional. Menurutnya, ada sekitar 70 jenis tumbuhan dengan beragam khasiat, dari obat penyakit gula hingga akar bajaka yang viral karena manfaatnya yang banyak, dari mencegah obesitas sampai menurunkan risiko penyakit hati. Seluruh 70 jenis tumbuhan ini tumbuh di sekitar pekarangan rumah dan di hutan.

Sejauh ini, saya mencatat 23 tanaman yang terdokumentasikan (dokumentasi tanaman obat ini akan dituliskan secara terpisah). Tentu saja 23 jenis tanaman tersebut menggunakan nama-nama dalam Bahasa lokal sebab mereka tidak tahu nama ilmiahnya. Ini membuat saya sedikit kesulitan menuliskan informasi yang akurat dan tepat. Namun, pada intinya masyarakat adat sesungguhnya memiliki pengetahuan sendiri mengenai dunia kesehatan dan farmasi, yang hingga sekarang masih dipercaya untuk kasus-kasus penyakit di desa.

Saat kerja pendokumentasian ini, saya sedang mengalami kemalangan berupa bisul yang tiba-tiba muncul di dungkul kaki sebelah kiri. Setelah memberitahukannya kepada pak Rajes Sitanggang, beliau langsung mengajak saya mencari Hatindi atau tumbuhan yang akan dijadikan obat bisul tersebut.  Hatindi atau Oxalis Dillenii adalah tumbuhan pendek yang merambat di sekitar sopo di perladangan, yang terkadang memiliki bunga berwarna kuning.

Caranya, daun hatindi dibersihkan dengan cara mencabuti akar-akarnya, lalu daun beserta batangnya ditumbuk sampai halus, dan air perasannya dioleskan di sekitar bisul (jangan sampai terkena mata bisulnya karena akan terasa sangat perih). Teorinya, getah tumbuhan itu akan mendorong nanah dan darah kotor menuju ke mata bisul; ketika  bisul sudah matang, lalu bisa pecah dan diobati selayaknya luka luar. Metode penyembuhan ini sangat efektif karena tidak lama kemudian bisulnya dapat dipecahkan dan akan sembuh dengan sendirinya. Menurut pak Rajes, bisul adalah penyakit dalam, yang tidak bisa disembuhkan seperti luka luar biasa seperti luka tergores dan lain sebagainya.

Hatindi hanya salah satu contoh obat tradisional dari sekitar kita, dan kebetulan sudah saya coba sendiri. Selain Hatindi, kami juga mendokumentasikan tumbuhan-tumbuhan yang dapat dikonsumsi sebagai pangan dan bumbunya, seperti Sikoru dan Langge.

Sikoru merupakan tanaman yang bentuknya menyerupai gandum atau padi, dan bijinya memang dapat menjadi makanan manusia saat tidak ada beras. Menurutnya, Sikoru ini dulu sering dikonsumsi oleh para nenek moyang karena teksturnya mirip dengan nasi apabila dimasak, dan pertumbuhan tanamannya sangatlah mudah. Sikoru dapat dipanen setiap 3 bulan, dan saat panen kita hanya perlu memangkas batangnya, maka sisa batang yang tertancap di tanah masih bisa tumbuh terus, hingga tidak bisa lagi digunakan apabila umurnya telah mencapai kira-kira 3 kali panen.

Nama ilmiah tanaman ini adalah Coiz lacryma-jobi, yangdi dunia internasional dikenal sebagai Job’s Tears, Adlay, Adlay Millet. Dalam budaya Jepang, tumbuhan ini banyak diolah menjadi makanan dan bahkan teh, dan dipercaya dapat membantu mengurangi berat badan karena kandungan karbohidrat kompleks yang baik tanpa perlu memakannya sebanyak nasi putih maupun nasi merah. Adlai juga merupakan obat herbal asia untuk penyakit yang berhubungan dengan endokrin, limpa, dan bahkan ginjal.

Langge merupakan tanaman yang dapat ditemui di hutan, memiliki daun-daun panjang beserta batang yang lunak berwarna merah muda, dan akar berwarna merah terang seperti Rias. Batang bagian dalam (foto paling kiri) dapat digunakan menjadi bumbu tambahan bagi masakan. Biasanya petani kemenyan yang menginap di tombak selama seminggu menggunakan Langge menjadi tambahan bumbu masakan mereka supaya lebih harum dan lebih gurih. Selain Langge, petanidi tombak biasanya menggunakan daun Rintua untuk dimasak menjadi sayur.

Tumbuhan-tumbuhan ini dapat memberi gambaran betapa sebetulnya masyarakat telah lama berhubungan langsung dengan lingkungan sekitarnya, bahkan dapat menggunakan apa saja yang ada di sekitarnya untuk mengobat berbagai penyakit dan untuk pangan sehari-hari. Bukan suatu yang keliru apabila perguruan tinggi dan pemerintah membuka diri pada pengetahuan-pengetahuan lokal seperti ini dalam menentukan arah kebijakannya. Kecuali ada faktor lain yang mempengaruhi sehingga masyarakat adat dilupakan sebagai aktor penting dalam isu-isu seperti ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, atau bahkan alam sebagai rumah kesehatan dan farmasi.

Refleksi: Dekolonialisasi Kritis dan Konsep “One Health” sebagai Perspektif Alternatif

Dekolonialisasi kritis (critical decolonialization) adalah pendekatan yang menempatkan pengetahuan-pengetahuan lokal milik masyarakat akar rumput dan masyarakat adat sebagai sesuatu yang akurat dan mutlak. Kendati tidak secara radikal menolak “keilmuan” yang selama ini dihegemoni oleh “keilmuan” gaya barat, dekolonisasi kritis ingin lebih menitikberatkan pandangan dan pengetahuan lokal sembari tetap kritis mengkaji pengetahuan lokal ini dari sudut pandang-sudut pandang lainnya.

Tidak bosan-bosan saya menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki cara pandang dan pengetahuan yang lebih holistik mengenai alam dan lingkungan sekitar. Mungkin pengetahuan itu tidak mampu menjelaskan sebab-sebab perubahan iklim secara rinci dan jelas, namun nilai-nilai yang terkandung dalam hukum-hukum adat dan perilaku sehari-hari masyarakat adat cukup menjelaskan betapa erat dan dekatnya hubungan manusia dengan alam.

Pengetahuan lokal dan sudut pandang khasnya merupakan nilai-nilai yang perlu dikaji lebih dalam dan terperinci untuk dapat digunakan menjadi pendekatan utama pengambil kebijakan dalam merumuskan kebijakan terutama yang terkait langsung dengan ruang hidup masyarakat adat. Misalnya, bagaimana kita dapat menggunakan nilai-nilai dalam pengetahuan lokal menjadi grand design atau agenda setting dalam pelaksanaan reforma agraria, kedaulatan pangan, bahkan untuk pembangunan laboratorium TSTH2 yang konon katanya akan mengembangkan teknologi hortikultura dan obat-obatan herbal.

Mengandalkan pengetahuan lokal adalah bentuk yang lebih maju dari sekedar melibatkan masyarakat dalam program pembangunan. Dalam perspektif pengetahuan lokal, masyarakat (manusia) dan alam sekitarnya (hewan dan tumbuhan) adalah kesatuan yang sama-sama dipandang sebagai subjek. Kapitalisme cenderung memisahkan manusia jauh dari alam, namun fenomena-fenomena menyedihkan seperti pandemik global Covid-19 membuat para ilmuan mulai mencari konsep untuk memulihkan relasi manusia dengan alam. Salah satu yang baru adalah konsep “One Health” dalam menyikapi fenomena-fenomena yang ada sekarang.

Melalui pesan Whatsapp, Eko Cahyono dari Sayogyo Institute mengatakan bahwa kita sekarang memerlukan sudut pandang yang lebih holistik dan alat-alat analisa yang lebih beragam (interdisiplin); pendekatan ekopol (ekonomi-politik) tidak lagi mencukupi dalam memandang sebuah isu sebab kapitalisme sekarang tidak lagi “jenis” kapitalisme klasik yang bersifat padat modal dll; kapitalisme era kontemporer ini sudah berkelindang dengan topeng-topeng yang lebih seksi.

Konsep “One Health” memandang kesehatan manusia, alam dan hewan sebagai kesatuan yang utuh, termasuk di dalamnya analisis sosial-politik mengenai perilaku kesehatan masyarakat dan pengetahuan masyarakat adat mengenai alamnya.

Dari 1407 patogen yang menulari manusia, 58% berasal dari hewan, dan 75% penyakit menular baru bersumber dari hewan. Statistik ini menegaskan pentingnya memperhatikan hewan dan habitat aslinya agar manusia terhindar dari risiko penyakit-penyakit baru dan mengantisipasi pandemi global baru di masa depan. Sebagai contoh, di lingkungan yang sudah tidak ada hutannya lagi, seperti daerah perkotaan padat, populasi tikus pasti akan meningkat drastis dan menjadi media transmisi penyakit yang efektif dan sangat mengancam manusia.

Itu hanya contoh kecil penyebaran penyakit yang disebabkan oleh ketidakstabilan ekosistem dan rusaknya habitat asli hewan-hewan. Pencegahan atas semua ini sangat tergantung pada konteks sosial, termasuk kebijakan negara yang sudah saatnya mempertimbangkan keseimbangan ekosistem di dalam negaranya. Hutan yang seharusnya menjadi tempat hidup yang damai antara masyarakat sekitar dan flora-fauna sekarang mulai rusak dan menyebabkan banyak masalah baru. Tidak hanya risiko penyakit. Kasus Pargamanan-Bintang Maria menunjukkan bahwa kebun dan sawah mereka terancam oleh satwa-satwa liar yang  kehilangan rumah di hulu hutan Tele.

Pengembangan teknologi pengobatan herbal dan program ketahanan pangan juga sudah saatnya mempertimbangkan kestabilan ekosistem ini, yang seharusnya memprioritaskan pemulihan hutan dan pelestarian hutan-hutan yang tersisa sebelum berbicara mengenai pembangunan berdalih riset tanaman herbal dan hortikultura. Ketahanan pangan tidak akan tercapai kalau pada akhirnya satwa-satwa yang seharusnya menetap di hutan alam datang menyerang lahan-lahan lumbung pangan. Memberi pestisida sebanyak-banyaknya juga tidak baik karena akan merusak tanah dan tanah yang sudah rusak akhirnya tidak dapat lagi dipakai untuk bercocok tanam.

Sudah saatnya kita berfikir untuk mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan pembangunan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup masyarakat sekitar, menempatkan masyarakat menjadi subjek pembangunan dengan melibatkannya secara penuh dengan semangat dekolonialisasi, bukan sekedar penonton dari proyek “Laboratorium Masa Depan”. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *