Pengembangan Smart Agriculture di Siria-Ria, Menjawab Persoalan Apa?

Petani Tradisional, Petani Cerdas

“Petani di Siria-Ria adalah petani tradisional”, jelas Pak J. Lumban Gaol, Kepala Desa Siria-Ria, pada saat acara Sosialisasi Teknologi Pertanian awal November tahun 2022 lalu di Desa Siria-Ria. Sosialisasi tersebut difasilitasi pendamping Food estate bersama beberapa perusahaan platform teknologi pertanian sebagai upaya mendorong Desa Siria-Ria menjadi Kawasan smart agriculture.

Petani tradisional, yang dimaksud adalah petani yang masih menjalankan sistem pertanian berdasarkan pengetahuan lokal dengan teknologi sederhana, dan mengandalkan sumber daya keluarga petani yang ada. Sampai saat ini petani di Siria-ria masih mengandalkan tanaman pangan lokal dan tanaman hortikultura yang beragam. Hasil panen ini, selain untuk memenuhi pangan local, juga untuk dijual ke pasar lokal.

Hampir semua keluarga di Desa ini masih memiliki lumbung. Lumbung padi merupakan kebijaksanaan lokal yang diwariskan oleh leluhur mereka. Lumbung padi, adalah penyimpanan padi pada saat panen. Biasanya bentuknya peti kayu berukuran besar, di beberapa rumah, peti ini sekaligus digunakan sebagai tempat tidur.

Mereka akan menjemur dan menggiling padi sesuai kebutuhan pangan mereka sehari-hari.  Sebagian digunakan untuk kebutuhan pesta-pesta adat di kampung. Di bulan Juni-Agustus dan Desember-Januari, sangat banyak pesta adat di kampung. Para ibu biasanya menjujung “tandok” berisi padi/beras sebagai bentuk kontribusi kepada yang punya hajatan. Biasanya beras dibawa untuk acara sukacita seperti perkawinan, syukuran kelahiran anak, memasuki rumah baru dan lain-lain. Sedangkan padi dibawa untuk acara dukacita. Sisanya dibiarkan di lumbung sebagai persediaan pangan untuk setahun. Itu sebabnya, komoditas utama yang diproduksi oleh petani di Siria-ria adalah padi, karena selain menjawab kebutuhan pangan, juga sangat terkait dengan sistem adat-istiadat yang masih berlaku hingga saat ini. Bisa dibayangkan, jika mereka tidak memproduksi padi, maka nilai-nilai adat juga akan mengalami degradasi.

Selain padi, petani di Desa Siria-Ria juga menghasilkan andaliman, rempah-rempah khas Batak Toba. Di bulan Desember-Januari, harga andaliman bisa mencapai Rp.200.000,- s/d Rp.300.000,- per kilo. Pada bulan-bulan ini, biasanya banyak pesta adat. Hampir tidak ada makanan khas Batak yang tidak menggunakan andaliman, seperti arsik, sambal tombur, saksang, naniura, natinombur, namargota, napinadar dan lain sebagainya. Tidak bisa dibayangkan, kalau andaliman tidak ada, bagaimana rasa kuliner khas batak tersebut. Jika andaliman punah, kuliner Batak juga banyak yang punah. Jika ke Siria-ria, kita akan melihat banyak pohon andaliman yang tumbuh di ladang-ladang petani.

Petani di Siria-ria, pada umumnya juga masih mengenal konsep marsiadapari (tolong menolong), ketika marsuan (menanam padi) dan panen. Memang untuk pertanian hortikultura lainnya, mereka sudah membayar tenaga kerja di luar keluarga. Namun tenaga kerja yang digunakan juga masih tenaga kerja lokal, alias dari desa itu sendiri,

Lahan-lahan pertanian mereka ditanami berbagai jenis tanaman, seperti jagung, cabe, kol, daun bawang, ubi, singkong, tomat, dan sayuran lainnya. Sangat beragam. Secara tidak langsung, sistem pertanian yang beragam ini juga, menurut mereka, untuk mengantisipasi kerugian yang besar, jika gagal panen atau harga jatuh. Jika satu produk rugi, masih ada harapan dari produk lain. Tanaman kentang, bawang merah dan bawang putih yang ditanam secara massal dan luas, itu merupakan hal yang baru bagi mereka, setelah kehadiran program Food Estate.

Produk unggulan lainnya yang menjadi ciri khas desa ini dan beberapa desa lainnya di Pollung adalah tanaman kemenyan. Para laki-laki, beberapa hari dalam seminggu, tinggal di tombak (hutan) untuk merawat dan melestarikan tombak kemenyannya. Saat ini harga kemenyan kualitas paling bagus sekitar Rp.300.000 per kilo. Memang, menurut sebagian petani kemenyan, produksi kemenyan dalam sepuluh tahun terakhir terus menurun, akibat lingkungan yang sudah tidak lagi ramah terhadap kemenyan. Sekeliling Tombak mereka sudah ditanami eukaliptus oleh PT Toba Pulp Lestari.

Cara bertani yang diterapkan oleh petani tradisional yang ada di Siria-Ria hingga saat ini, sebenarnya menunjukkan betapa petani tradisional di Tano Batak adalah petani yang cerdas, berdaulat dan tangguh. Sistem pertanian inilah yang seharusnya dikembangkan oleh pemerintah untuk mendukung kedaulatan pangan bangsa ini. Istilah smart agriculture  yang gencar disosialisasikan oleh pemerintah di wilayah food estate Siria-Ria sebenarnya tidak lebih baik dan canggih dibandingkan pertanian tradisional.

Smart Agriculture, Menjawab Persoalan Petani Yang Mana?

Masih dalam acara sosialisasi Teknologi smart agriculture tersebut, Kepala Desa Siria-Ria juga berpendapat bahwa teknologi yang diperkenalkan tersebut sangat jauh dari jangkauan dan pemahaman petani di desanya. Istilahnya saja sudah sangat asing bagi mereka.

Smart Agriculture atau pertanian cerdas, secara umum merupakan teknologi era industry 4.0 untuk pengembangan pertanian modern. Aplikasi dari sistem pertanian ini mencakup empat hal, pertama, pengelolaan pertanian supaya lebih produktif, mulai dari persiapan lahan, pemetaan, memantau iklim, irigasi, penggunaan pupuk, estimasi produksi dan yang lainnya; kedua, penggunaan berbagai tekologi canggih  dalam proses pemanenan; ketiga penyimpanan hasil panen yang memperhatikan suhu ruang supaya kualitasnya terjaga; dan keempat, proses pemasaran atau pendistribusian yang lebih menarik, baik dari kualitas maupun pengemasannya.

Masih menurut kepala desa, bahwa untuk mengoperasikan platform teknologi pertanian tersebut juga tidak mudah bagi petani dan bukan kebutuhan mereka. Apalagi menurut para narasumber, teknologinya juga diadopsi dari Jerman yang belum ada di Indonesia. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya petani tradisional yang selama ini mempraktekkan kearifan lokalnya beradaptasi dengan teknologi yang asing tersebut. 

Perusahaan platform yang hadir juga menawarkan beberapa skema kerjasama dengan petani Food Estate di Siria-Ria, antara lain bagi hasil dan sistem sewa. Salah satu teknologi yang ditawarkan adalah pengadaan robot untuk membantu petani panen di lahan Food Estate. Tawaran yang semakin membingungkan petani, karena menurut mereka persoalan petani saat ini adalah biaya produksi yang semakin tinggi, cuaca yang ekstrim, harga pupuk yang semakin mahal, sementara harga produk pertanian fluktuatit dan cenderung rendah. Pengadaan aplikasi smart agriculture yang ditawarkan pengelola Program Food Estate tersebut hanya akan menambah biaya produksi mereka, yang ujung-ujungnya menambah beban hutang mereka.

Menurut para petani yang hadir dalam sosialisasi tersebut, yang paling dibutuhkan saat ini adalah jawaban atas persoalan-persoalan akut yang sedang mereka hadapi. Jawabannya tentu bukan teknologi smart agriculture tersebut.

Petani di Siria-ria, tidak menuntut sesuatu yang canggih, yang diluar jangkauan mereka. Mereka hanya meminta pemerintah menjawab persoalan yang selama ini mereka hadapi sendiri, infrastruktur yang buruk, ketimpangan pengelolaan tanah dan SDA, sistem irigasi yang buruk, pupuk dan pestisida yang mahal dan langka, harga produk pertanian yang tidak stabil, iklim yang tidak bersahabat karena kerusakan lingkungan serta tidak adanya jaminan perlindungan petani.

Pak Mei Manullang, seorang petani yang dulunya bergabung dalam Program food estate di Desa Siria-ria, mengakui bahwa dirinya sangat senang menerima Program Food estate, dengan harapan bahwa program ini akan menguntungkan mereka. Dia menyambut baik pembangunan infrastruktur jalan. Sebelum ada food estate, kesulitan mereka salah satunya adalah akses jalan yang buruk. Namun pertanyaannya, apakah hanya melalui Program Food Estate ini, akses jalan pertanian baru mendapat perhatian? Bagaimana dengan wilayah pertanian yang tidak masuk dalam Program Food Estate?

Menurut Pak Mei dan beberapa petani lainnya, tanpa ada Program Food Estate, pemerintah tak akan membangun jalan mereka. Saat ini, di lahan miliknya seluas dua hektar yang tadinya masuk dalam program Food Estate, dia sudah menanam cabai, jagung dan komoditi lainnya yang tidak masuk dalam skema kerjasama dengan Program Food Estate. Sayangnya, menurut dia, hasilnya belum bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dia masih rutin ke tombak (hutan) kemenyannya dan ke kebun andaliman. Masih menurutnya, kedua produk ini masih produk andalan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pak Mei tidak sendiri, 90% petani yang tadinya ikut dalam  program ini, tidak lagi bergabung dalam skema Program Food Estate. Bagi yang memiliki modal, mereka mengelola sendiri dengan berbgai jenis tanaman, namun bagi yang tidak memiliki modal mereka menelantarkannya. Hingga, jangan heran jika banyak lahan food estate yang sudah ditumbuhi ilalang atau terlantar ditinggalkan penduduknya. Mereka kembali mengelola kemenyan, andaliman, dan padi.

Hanya saja, Pak Mei dan kawan-kawannya juga menyimpan kekhawatiran, khusunya terkait dengan kontrak yang sudah sempat mereka tandatangani. Di mana ketika mereka mendapatkan sertifikat atas tanah tersebut, mereka diikat oleh berbagai persyaratan, seperti peruntukan lahan hanya untuk pengembangan food estate.

Foto kodisi tanaman bawang di Desa Ria-ria yang akan di panen. (dok ksppm_2022)

 Pengulangan Kegagalan Revolusi Hijau

Program Food Estate di Siria-Ria, yang sudah berjalan lebih dari dua tahun, dari pantauan KSPPM, program ini menunjukkan banyak kegagalan. Tidak hanya merugikan petani tetapi juga negara. Pemerintah seakan tidak pernah belajar dari berbagai kegagalan salah kelola sektor pertanian.

Sistem smart agriculture yang saat ini gencar diperkenalkan sebenarnya merupakan bentuk baru revolusi hijau, masa di mana berbagai teknologi digunakan untuk meningkatkan prioduksi pertanian untuk menjawab kebutuhan pangan penduduk dunia yang betumbuh pesat. Di Indonesia, revolusi hijau dimulai di masa orde baru sekitar tahun 1980-an, dengan program swasembada pangan. Hampir setengah abad, namun benarkah dengan menerapkan revolusi hijau, sistem pertanian kita semakin membaik? Mampukan sistem pertanian yang dikembangkan selama ini menjawab kebutuhan pangan penduduk bangsa ini? Atau justru sebaliknya, petani semakin terasing dari tanahnya, dari produksi, konsumsi dan teknologinya? 

Revolusi hijau telah memporakporandakan sistem pertanian lokal yang berbasis pada prinsip kebersamaan atau tolong menolong yang kuat. Marsiadapari atau marsirumpa yang merupakan prinsip tolong menolong dalam sistem pertanian lokal masyarakat Batak tergantikan oleh hadirnya teknologi pertanian, yang secara langsung menciptakan sifat individualis dan kompetitif. Hancurnya prinsip kebersamaan dan tolong menolong ini, sangat terasa dampaknya saat ini, di mana ada peningkatan biaya produksi untuk pengadaan teknologi pertanian. Jika teknologi pertanian tidak tersedia, terpaksa petani harus membayar tenaga kerja pertanian, yang tadinya bisa diatasi dengan bergotong royong atau tolong menolong. Marsiadaoari dan Marsirumpa, semakin jarang ditemukan di pedesaan di Tano Batak.

Tidak hanya pembengkakan biaya dari sektor tenaga kerja, revolusi hijau juga telah mendesak petani masuk dalam jerat ketergantungan terhadap bibit-bibit unggul hasil rekayasa genetika, pupuk dan pestisida kimia. Demi menggenjot hasil, tanah dipaksa berproduksi secara terus menerus dengan hadirnya berbagai macam pupuk dan pestisida kimia. Padahal sebelumnya, petani di Tanah Batak mengenal konsep pertanian yang ramah lingkungan, yakni “sinur napinahan gabe na niula (ternak berkembang biak, pertanian tumbuh subur)”. Pertanian yang menjaga relasi semua mahluk dan menjaga tanah agar tetap bisa berproduksi dengan baik secara berkelanjutan.

Sumbangan revolusi hijau bagi keterpurukan sektor pertanian di Indonesia, sepertinya tidak menjadi pembelajaran berharga bagi pemerintah. Mempromosikan smart agriculture pada petani tradisional di Siria-Ria, bukanlah pilihan yang tepat. Hanya akan menambah keputusasaan petani untuk mengembangkan pertaniannya di tengah banyaknya tantangan yang harus diatasi. Istilah smart agriculture itu sendiri sebuah istilah yang menganggap pertanian tradisional bukanlah sistem pertanian yang cerdas. Padahal, sampai saat ini, petani tradisional bisa bertahan ditengah banyaknya tantangan, juga menunjukkan bahwa merekalah sebenarnya petani yang smart. Tidak saja cerdas, tapi juga tangguh.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *