Dampak Industri Pulp terhadap
Lingkungan

Oleh: WALHI Sumatra Utara

Indonesia merupakan negara yang memproduksi gas emisi rumah kaca
ketiga terbesar di dunia, setelah Cina dan AS. Gas buang itu 85% berasal
dari kerusakan dan berkurangnya jumlah luas hutan di Indonesia. Hutan
alam merupakan penyimpan karbon terbesar di dunia.

Pulp dan kertas dianggap salah satu industri yang memegang peranan
penting bagi perekonomian Indonesia. Menurut data FAO tahun 2013, total
nilai ekspor Indonesia tahun 2011 untuk produk pulp US$1,554 juta; sedangkan
untuk produk kertas US$3,544 juta.

Industri pulp dan kertas Indonesia memperlihatkan perkembangan yang
cukup meningkat. Tahun 2002 menempati peringkat ke-12 sebagai eksportir
kertas. Sedangkan di tahun 2011 sudah di posisi ke-9. Untuk pulp, peringkat
ke-6 dunia dengan produksi 2.25 juta ton (tahun 2002) dan 2.93 juta ton
(tahun 2021). Demikian menurut FAO (2013).

Saat ini industri kertas nasional telah mengekspor ke 90 negara di dunia.
Untuk menggapai cita-cita sebagai produsen pulp dan kertas terbesar ke-2
dunia, produsen terus meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menaikkan
tingkat efisiensi. Dengan kapasitas mesin pulp terpasang sebesar 7,9 juta ton
per tahun, Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia. Sementara, dengan
kapasitas mesin kertas terpasang 12,9 juta ton per-tahun, berperingkat ke- 6
dunia.

Industri kertas di Indonesia tentunya telah bersaing di pasar dunia. Untuk
tingkat Asia, kita berada di peringkat ke-3 dunia di bawah Cina dan Jepang.
Sedangkan di ASEAN di peringkat pertama. Artinya, kebutuhan pulp dan
kertas negara-negara ASEAN sangat bergantung pada Indonesia.

Tahun 2013, Indonesia mengekspor pulp dan kertas ke Malaysia dengan
volume 363,4 ribu ton, Vietnam 356,1 ribu ton, Filipina 163,16 ribu ton, dan
Thailand 125,86 ribu ton.1

1https://www.antaranews.com/berita/470765/mea-peluang-industri-pulp-dan-kertas-indonesia

Indonesia memiliki potensi menjadi negara produsen
pulp dan kertas terbesar dunia karena memiliki sejumlah keunggulan yang
tak ada di negara lain. Di antaranya, lahan yang luas serta Sumber Daya
Alam (SDA) yang sangat melimpah. Namun sampai saat ini, industri kertas
menghadapi persoalan kebijakan terkait regulasi ekspor-impor maupun
permasalahan lingkungan hidup di negeri kita.

Memasuki kuartal II/2016 pelaku industri pulp dan kertas di Indonesia lebih
mengandalkan pasar domestik karena pertumbuhannya lebih tinggi yaitu 30%
dan harga anjlok di pasar global.2 Dalam hal pengembangan industri kertas,
pemerintah harusnya mendorong dengan kebijakan yang peduli terhadap
keberlanjutan dan penyelamatan lingkungan hidup. Sebab, bahan baku
pulp dan kertas adalah kayu. Pemerintah tidak boleh mengabaikan faktor
kelestarian alam.

2https://bisnis.tempo.co/read/784555/industri-kertas-andalkan-pasar-dalam-negeri

Luas daratan Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan permukaan bumi. Tapi,
keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya sangat luar biasa: meliputi
11% spesies tumbuhan dunia, 10% spesies mamalia, dan 16% spesies burung.
Sebagian besar dari spesies ini berada di dalam hutan kita.

Deforestasi di Indonesia sebagian besar merupakan akibat dari suatu sistem
politik dan ekonomi yang korup, yang menganggap SDA, khususnya hutan,
sebagai sumber pendapatan yang bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik
dan keuntungan pribadi. Deforestasi adalah proses penghilangan hutan alam
dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan
lahan hutan menjadi non-hutan. Hal ini juga dapat disebabkan oleh kebakaran
hutan.

Gas rumah kaca bertanggung jawab terhadap terjadinya pemanasan
global. Dari sekian jenis gas rumah kaca, karbon dioksida (CO2) merupakan
gas rumah kaca yang paling banyak dihasilkan. Untuk kasus deforestasi,
CO2 yang dikeluarkan menyumbangkan 6-17% terhadap emisi global. Angka
ini menunjukkan deforestasi penyumbang CO2 terbesar kedua setelah
pembakaran bahan bakar fosil.

Hutan merupakan penyimpan cadangan karbon yang besar. Lebih dari 300
milyar ton karbon tersimpan di hutan dan pohon-pohon yang ada di bumi.
Jumlah tersebut 40 kali lebih besar dari karbon yang dihasilkan akibat
pembakaran bahan bakar fosil. Angka tersebut dengan jelas menerangkan
pentingnya peran hutan dalam menjaga perubahan iklim.

Laju deforestasi di Indonesia dalam 3 periode mengalami penurunan yakni 2
juta hektar per tahun dalam kurun waktu 1980-1990-an, sekitar 1,5 juta per
tahun selama 2000-2009, dan sekitar 1,1 juta hektar pada periode 2009-2013.
Angka laju deforestasi di Indonesia yang turun disebabkan kawasan hutan
yang semakin berkurang.

Pada awal tahun 2000-an, Indonesia pernah tercatat dalam Guinness Book
of World Records
sebagai negara tropis dengan laju deforestasi tertinggi
di dunia, yakni 2 juta hektar per tahun.3 Saat ini, laju deforestasi Indonesia
dengan angka 1,1 juta hektar per-tahun dan sangat mengkhawatirkan
sehingga pemerintah harus terus memperhatikan pemanfaatan dan upaya
penyelamatan hutan. Penanaman hutan kembali dan perlindungan hutan dari
pembalakan liar dan perusahaan industri ekstraktif destruktif mesti lekas
dilakukan.

3https://www.antaranews.com/berita/474271/fwi-laju-deforestasi-indonesia-tertinggi

Tingginya permintaan pasar atas produk kehutanan juga kerap memicu
produsen untuk memaksakan jalur-jalur produksi yang lebih cepat. Antara
lain dengan menambah luas lahan yang dapat diambil kayunya dengan cara
melanggar hukum, misalnya melalui korupsi perizinan. Pelanggaran seperti ini
menyebabkan laju deforestasi pun semakin cepat.

Kini pemanasan global menjadi salah satu dampak jangka panjang akibat
deforestasi. Ini adalah tantangan serius yang dihadapi oleh Indonesia.
Deforestasi merupakan masalah lingkungan yang cukup pelik. Pemerintah
Indonesia harus bertindak untuk mengatasi dampaknya. Hutan sangat penting
dan memberikan banyak manfaat bagi dunia. Jika tidak segera mengambil
langkah perbaikan untuk menghentikan deforestasi, maka perlahan seluruh
kehidupan di bumi akan terganggu. Produksi kertas ditentukan oleh
ketersediaan sumber bahan baku, terutama kayu yang dihasilkan dari hutan
produksi yang telah memiliki Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
(IUPHHK).


Bentang Tele
Di Sumatera Utara perusahaan PT. Toba Pulp Lestari (TPL) telah melakukan
praktik deforestasi selama puluhan tahun. Tentunya perusahaan ini melahirkan
berbagai macam polemik. Salah satu yang nyata adalah praktik alih fungsi
berskala besar di dalam kawasan hutan Bentang Tele.

Bentang Tele memiliki fungsi ekologis yang sangat penting untuk kawasan
Danau Toba. Kawasan hutan terakhir yang masih mungkin diselamatkan dari
ancaman TPL, untuk memastikan keberlanjutan stabilisasi iklim dan kontrol
debit air Danau Toba, danau vulkanik terluas di dunia. Bentang ini sedang
menghadapi ancaman baik legal via konsesi tebang milik TPL seluas ±68.000
hektar, maupun ilegal oleh perusahaan-perusahaan kayu di sekitar kawasan
itu.

Selain itu, Bentang Tele juga punya fungsi penting untuk memastikan
keselamatan puluhan desa di pinggiran danau Toba. Kampung-kampung di
lembah Pulau Samosir menggantungkan hidupnya pada kelestarian hutan ini
karena menjadi sumber air untuk mengairi persawahan dan diminum.

Di samping itu, kerusakan Tele berpotensi menimbulkan longsor di
sepanjang tebing tempat warga bermukim. Hancurnya bentang telah
menyebabkan rusaknya pohon endemik haminjon (kemenyan) yang telah
dikelola masyarakat adat selama ratusan tahun. Pohon sensitif itu tidak lagi
mengeluarkan getahnya dengan baik akibat perubahan suhu rata-rata di
kawasan hutan.

Di kawasan Bentang Tele 5.300 hektar lahan telah dikembalikan ke
masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta, pada Desember 2016. Namun,
langkah itu sedikit terlambat karena kawasan luas ini sebagian besar telah
dihancurkan oleh TPL; hal yang mempengaruhi perubahan suhu udara
rata-rata di pinggiran hutan.

Menurut perhitungan valuasi ekonomi yang kami lakukan bersama
masyarakat, potensi kerugian masyarakat yang ditimbulkan oleh konflik
tenurial di tanah seluas 25.000 hektar di pinggiran hutan bentang Tele
tersebut mencapai Rp 132 milyar per tahun. Agenda besar pembangunan
kawasan Danau Toba sebagai super prioritas destinasi wisata nasional akan
berdampak rumit karena agenda ini akan menambah beban kawasan yang
selama ini telah dieksploitasi oleh perusahaan kehutanan yang menebangi
hutan alam secara masif dan budidaya ikan di perairan yang melampaui daya
dukung Danau Toba. Oleh karena itu pemulihan dan penyelamatan Bentang
Tele menjadi keharusan. Agenda pemulihannya harus melibatkan perspektif
ekologi dan sosial, untuk memastikan bukan hanya penyelamatan lokasi-lokasi
hutan adat saja yang dilakukan.

Berdasarkan hasil analisis spasial yang dilakukan oleh Walhi Sumatera Utara,
kami mengidentifikasi bahwa aktifitas TPL berkontribusi terhadap deforestasi
skala besar yang terjadi di Bentang Alam Tele. Melalui pengindraan jarak jauh
dengan bahan citra sentinel yang kemudian di-overlay-kan dengan izin TPL.
Walhi Sumatra Utara menemukan bahwa setidaknya 22.000 Ha kawasan
hutan di Bentang Alam Tele sudah dihancurkan oleh TPL dan kemudian
ditanami eukaliptus dengan sistem perkebunan monokultur.

Dari total 22.000 Ha hutan yang dihancurkan, 4.000 Ha di antaranya
berada di dalam kawasan hutan lindung. Berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999
Pasal 1 ayat 8 dituliskan bahwa “Hutan lindung adalah kawasan hutan yang
mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan
untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah
instrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah“.

Tindakan perusakan kawasan hutan lindung yang dilakukan oleh TPL di
Bentang Alam Tele menjadi indikasi yang kuat bahwa korporasi itu telah
melakukan perbuatan melanggar hukum dan seharusnya di hukum atas
perbuatannya. Namun, faktanya sampai hari ini pemerintah belum mengambil
tindakan atas dugaan perbuatan melanggar hukum ini.

Walhi Sumatera Utara menduga adanya pembiaran yang dilakukan oleh
pemerintah atas dugaan perusakan kawasan hutan lindung yang dilakukan
TPL sehingga menyebabkan meluasnya asumsi liar di luar sana bahwa
perusahaan HTI ini memang sengaja dilindungi untuk kepentingan investasi.

No. Kabupaten/Kota Sektor (Ha) Total Persen %
Habinsaran Aek Raja Aek Nauli  Tele Tapanuli Utara
1 Toba 11,559 11,559 7
2 Tapanuli Utara 15,206 33,735 48,941 29
3 Simalungun 18,874 18,874 11
4 Asahan 1,486 1,486 1
5 Tapanuli Tengah 2,662 2,662 2
6 Humbang Hasundutan 9,165 9,614 18,779 11
7 Dairi 4,420 4,420 3
8 Samosir 30,657 30,657 18
9 Pakpak Bharat 2,194 2,194 1
10 Tapanuli Selatan 13,265 13,265 8
11 Padang Lawas Utara 13,236 13,236 8
12 Kota Padang Sidempuan 1,839 1,839 1
Total 26,765 45,562 20,360 46,885 28,340 167,912 100

LIMBAH INDUSTRI KERTAS

Bahan Baku Industri Kertas
Kayu sebagai bahan baku dalam industri kertas mengandung beberapa
komponen antara lain:

  1. Selulosa
    Selulosa merupakan komponen yang paling dikehendaki dalam pembuatan
    kertas karena bersifat panjang dan kuat. Kayu mengandung sekitar 50 %
    komponen selulosa.
  2. Hemiselulosa
    Hemiselulosa lebih mudah larut dalam air dan biasanya dihilangkan dalam
    proses pulping.
  3. Lignin
    Lignin berfungsi merekatkan serat–serat selulosa sehingga menjadi kaku.
    Pada proses pulping secara kimia dan proses pemutihan akan menghilangkan
    komponen lignin tanpa mengurangi serat selulosa. Biasanya komponen lignin
    dalam kayu sekitar 30 %.
  4. Bahan ekstraktif
    Komponen ini meliputi hormon tumbuhan, resin, asam lemak, dan unsur
    lain. Komponen ini sangat beracun bagi organisme perairan dan mencapai
    jumlah toksik akut dalam limbah industri kertas. Biasanya jumlah komponen
    hemiselulosa dan hidrokarbon dalam kayu sekitar 20 %.

Karakteristik limbah pabrik kertas
Warnanya yang kehitaman atau abu-abu keruh, bau yang khas, kandungan
padatan terlarut dan padatan tersuspensi yang tinggi, COD yang tinggi dan
tahan terhadap oksidasi biologis

1. Limbah Industri Kertas
Pada proses pembuatan kertas terdapat zat yang berpotensi mencemari
lingkungan. Limbah proses pembuatan kertas yang berpotensi mencemari
lingkungan tersebut adalah

Limbah cair, yang terdiri dari :

  • Padatan tersuspensi yang mengandung partikel kayu, serat, dan pigmen,
  • Senyawa organik koloid terlarut seperti hemiselulosa, gula, alkohol,
    lignin, terpenting, zat pengurai serat, perekat pati, dan zat sintetis yang
    menghasilkan BOD (biological oxygen demand) tinggi,
  • Limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna kertas,
  • Bahan anorganik seperti NaOH, Na2SO4 dan klorin,
  • Pestisida,
  • Limbah panas,
  • Mikroba seperti golongan bakteri koliform,
  • Limbah bahan berbahaya dan beracun yang dikeluarkan dari colling
    tower.

Partikulat yang terdiri dari :

  • Abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain
  • Partikulat zat kimia terutama yang mengandung natrium dan kalsium.

Gas yang terdiri dari :

  • Gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H2S yang
    dilepaskan dari berbagai tahap dalam proses kraft pulping dan proses
    pemulihan bahan kimia,
  • Oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery
    furnacedan lime kiln
    (tanur kapur),
  • Uap yang mengganggu jarak pandangan.

Limbah padat yang terdiri dari :

  • Sludge dari pengolahan limbah primer dan sekunder,
  • Limbah dari potongan kayu.

Dampak Pencemaran Limbah Pabrik Kertas
Adapun dampak dari limbah industri kertas yaitu pencemaran lingkungan dan
kesehatan manusia. Dampak pencemaran lingkungan antara lain :

  1. Membunuh ikan, kerang dan invertebrata akuatik lainnya
  2. Memasukkan zat kimia karsinogenik dan zat pengganggu aktivitas
    hormon ke dalam lingkungan
  3. Menghabiskan jutaan liter air tawar
  4. Menimbulkan risiko terpaparnya masyarakat oleh buangan zat kimia
    berbahaya dari limbah industri yang mencemari lingkungan

Terdapat beberapa senyawa dalam industri pulp dan kertas yang berpeluang
besar bersifat karsinogenik bagi kesehatan manusia, yaitu :

  • Asbes, dapat menyebabkan kanker paru-paru, digunakan pada
    penyambungan pipa dan boiler.
  • Aditif kertas lainnya termasuk benzidine-base dyes, formaldehid
    dan epichlorohydrin yang berpeluang menimbulkan kanker pada
    manusia.
  • Kromium heksavalen dan senyawa nikel. Senyawa ini umumnya
    digunakan pada pengelasan stainless steel dan dikenal sebagai
    karsinogenik terhadap paru-paru dan organ pernafasan lain.
  • Debu kayu (utamanya kayu keras)
  • Debu kayu keras dikenal sebagai penyebab kanker pernafasan.
  • Hidrazin, styren, minyak mineral, chlorinated phenols, dan dioxin
  • Senyawa-senyawa tersebut berpeluang besar menyebabkan kanker.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *