ksppm
  • Beranda
  • Profile
    • Visi dan Misi
    • Profil KSPPM
    • Tentang KSPPM
    • Struktur Organisasi
    • Pelaksana Program
    • Staff
    • Badan Pendiri
  • Berita
    • Samosir
    • Toba
    • Tapanuli Utara
    • Humbahas
    • Liputan Media
    • Wilayah Lainnya
  • Buletin Prakarsa
Donation
No Result
View All Result
en English id Indonesian
ksppm
  • Beranda
  • Profile
    • Visi dan Misi
    • Profil KSPPM
    • Tentang KSPPM
    • Struktur Organisasi
    • Pelaksana Program
    • Staff
    • Badan Pendiri
  • Berita
    • Samosir
    • Toba
    • Tapanuli Utara
    • Humbahas
    • Liputan Media
    • Wilayah Lainnya
  • Buletin Prakarsa
Donation
No Result
View All Result
en English id Indonesian
ksppm
Donation
Home Uncategorized

Embung Harapan Baru Menjawab Krisis Air untuk Pertanian

Di tengah agenda perjuangan agraria yang masih berlangsung, masyarakat adat Golat Simbolon membangun embung secara gotong royong sebagai harapan baru menghadapi krisis air untuk pertanian.

Tim KSPPM Tim KSPPM
29 Mei 2026
— Uncategorized
— Dibaca normal 6 menit
A A
Whatsapp Image 2026 05 21 At 5 38 07 Pm

Kabut masih menggantung tipis di perbukitan ketika matahari perlahan naik dari balik hutan Tombak Simanjopputi. Udara pagi terasa lembab. Rumput-rumput di sekitar tanah perjuangan Golat Simbolon masih dipenuhi embun. Dari kejauhan terdengar desir angin bercampur percakapan lirih masyarakat yang sejak pagi telah berkumpul di bantaran sungai di pinggir lembah.

Di sudut lain, beberapa ibu mengumpulkan bebatuan yang nantinya digunakan untuk peletakan batu pertama. Pagi itu, Kamis, 21 Mei, menjelang siang, Komunitas Masyarakat Adat Golat Simbolon di Desa Sijambur, Kecamatan Ronggur Ni Huta, Kabupaten Samosir, menggelar ritual adat sebelum pembangunan embung dan jembatan menuju tanah perjuangan mereka dimulai.

Para penatua berdiri di bagian depan, sementara masyarakat membentuk lingkaran di belakang mereka. Selembar ulos ragi hotang dibentangkan perlahan di atas tanah sebagai alas persembahan. Di atasnya disusun beberapa bakul berisi itak—beras yang ditumbuk halus—yang terdiri dari Itak Ni Hitang Niandalu berwarna kuning, terbuat dari tepung beras, pisang, dan kunyit; Itak Na Nihopingan berwarna kemerahan, terbuat dari lada, kencur, kelapa sangrai, gula merah, jahe, dan tepung beras; serta Itak Gurgur berwarna putih yang terbuat dari tepung beras, kelapa, dan gula merah.

Baca Juga

Stks1

STKS dan KSPPM Dorong DPRD Samosir Priritaskan Ranperda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

15 Mei 2026
RRR_3960

Ensuring Indigenous Voices

11 Mei 2026

Di atas ulos itu juga diletakkan beras, sebutir telur ayam kampung, daun sirih (demban), serta empat lembar uang yang disatukan dalam satu gajut atau bakul kecil. Empat lembar uang tersebut menjadi simbol keutuhan dan keteguhan, sebagaimana ungkapan Batak: asa hot di batu-batu na, togu di pangarait na, jala sikop di rapang-rapang na.

Tak jauh dari sana diletakkan anggir pangurasan, sebuah cawan berisi unte pangir atau jeruk purut. Sementara di samping ulos, seekor kambing putih berdiri tenang, diikat pada batang kayu kecil beberapa meter dari lokasi ritual. Dalam tradisi Batak, kambing putih melambangkan kesucian—putih so haliapan, putih so habubuan.

Suasana mendadak hening ketika seorang penatua, dengan sarung melilit di pinggangnya, mulai membacakan doa dalam bahasa Batak. Suaranya berat dan bergetar, seolah sedang berbicara kepada sesuatu yang tak kasatmata di antara pepohonan.

“Joloon nami martangiang tu ompunta na mangaramoti tombak on…” terlebih dahulu kami meminta keselamatan dari penghuni hutan ini.

Doa itu bukan sekadar permohonan agar pembangunan berjalan lancar. Ia adalah percakapan panjang manusia dengan tanah yang mereka pijak. Dengan hutan yang selama puluhan tahun menjaga kampung mereka. Dengan leluhur yang dipercaya tetap hidup bersama angin, batu, dan akar-akar pohon di Tombak Simanjopputi.

Mereka meminta restu kepada penjaga hutan agar embung dan jembatan yang akan dibangun tidak membawa bencana, melainkan kehidupan.

Di belakang para penatua, beberapa anak muda merekam jalannya ritual menggunakan telepon genggam. Mereka sedang mengabadikan sesuatu yang perlahan mulai hilang dari kehidupan banyak komunitas adat. Sebagian lainnya hanya diam memandangi prosesi dengan wajah serius. Ada kesadaran yang tumbuh pagi itu: bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari rapat proyek, gambar teknik, atau pidato pejabat. Kadang, pembangunan dimulai dari doa.

Seekor kambing putih kemudian dibaringkan perlahan. Pisau diarahkan ke lehernya. Dalam hitungan detik, darah segar mengalir deras dan ditampung ke dalam ember. Bau anyir bercampur dengan aroma tanah basah yang masih menyimpan embun pagi.

Kuku dan potongan kecil telinga kambing diletakkan di titik yang kelak menjadi pondasi pembangunan. Darah yang telah terkumpul kemudian disiramkan ke dalam lubang peletakan batu pertama. Setelah itu, satu per satu pengurus komunitas, penatua, dan lembaga pendamping mulai meletakkan batu sambil menyampaikan doa dan harapan agar pembangunan berjalan baik.

Di akhir ritual, itak dibagikan kepada semua orang. Mereka memakannya bersama sambil meminum anggir pangurasan langsung dari cawannya secara bergiliran—sebuah simbol kebersamaan dan kesatuan hati. Setelah itu masyarakat makan bersama dengan hidangan kambing putih yang sebelumnya dipersembahkan dalam ritual.

Bagi sebagian orang luar, ritual semacam itu mungkin tampak kuno, bahkan dianggap mistis. Namun bagi Komunitas Masyarakat Adat Golat Simbolon, ritual tersebut adalah penanda hubungan yang tak pernah putus antara manusia dan tanahnya.

Tanah, bagi mereka, bukan benda mati. Ia bukan sekadar aset pembangunan yang dapat diukur melalui sertifikat atau angka investasi. Tanah adalah ruang hidup—tempat ingatan, identitas, sejarah, dan masa depan diwariskan dari generasi ke generasi.

Di titik itulah konflik terbesar dalam sejarah pembangunan di Indonesia kerap bermula. Selama puluhan tahun, pembangunan sering hadir sebagai sesuatu yang datang dari luar masyarakat. Negara menentukan. Perusahaan menjalankan. Rakyat menerima akibatnya.

Hutan ditebang atas nama investasi. Sungai dibendung atas nama kemajuan. Tanah adat dipetakan ulang tanpa sungguh-sungguh mendengar suara mereka yang hidup di atasnya sejak turun-temurun. Di banyak tempat, pembangunan bahkan menjadi wajah lain dari perampasan ruang hidup.

Masyarakat adat dipaksa meninggalkan tanah leluhur. Petani kehilangan sawah. Kampung-kampung tercerabut dari sejarahnya sendiri. Ironisnya, mereka yang hidup paling dekat dengan tanah justru sering menjadi kelompok yang paling jauh dari kesejahteraan.

Karena itu, apa yang dilakukan Golat Simbolon pagi itu sesungguhnya bukan sekadar ritual adat biasa. Ia adalah pernyataan politik: bahwa masyarakat memiliki hak menentukan masa depan ruang hidupnya sendiri. Bahwa pembangunan tidak boleh berdiri di atas penghilangan manusia dari tanahnya.

Di sinilah perjuangan masyarakat adat bertemu dengan gagasan reforma agraria. Reforma agraria bukan semata soal pembagian lahan, melainkan upaya mengembalikan hubungan yang adil antara manusia, tanah, dan kekuasaan.

Embung dan jembatan yang akan dibangun komunitas itu lahir dari pengalaman panjang tentang kehilangan dan perjuangan. Pembangunan embung menjadi salah satu rangkaian program Komunitas Golat Simbolon menuju desa reforma agraria. Berbagai tahapan telah mereka lakukan, termasuk perombakan persil-persil kepemilikan tanah untuk memastikan tidak terjadi ketimpangan penguasaan lahan di dalam komunitas.

Di balik pembangunan itu tersimpan cita-cita yang lebih besar: membangun desa menuju industrialisasi berbasis komunitas. Sebuah harapan agar desa mampu menyediakan sumber pekerjaan bagi generasi mendatang, sehingga mereka tidak selalu dipaksa bermigrasi ke kota demi mencari masa depan.

Ingatan tentang kekeringan yang melanda tanah perjuangan mereka setahun lalu masih terasa dekat. Tanaman mengering. Jagung gagal panen. Hampir delapan puluh persen hasil pertanian rusak akibat kekurangan air.

Bagi petani kecil, gagal panen bukan sekadar kehilangan hasil produksi. Ia bisa berarti utang yang menumpuk, dapur yang berhenti mengepul, hingga anak-anak yang terancam putus sekolah. Karena itu, embung bukan hanya infrastruktur. Ia adalah harapan agar tanah yang telah diperjuangkan dengan keringat dan air mata benar-benar mampu menjadi sumber kehidupan.

Tanah perjuangan Golat Simbolon tidak lahir dari hadiah negara. Ia lahir dari proses panjang perebutan ruang hidup yang melibatkan keberanian, solidaritas, dan keteguhan masyarakat mempertahankan haknya sejak 2017. Wilayah adat seluas 1.006,7 hektar itu selama ini difungsikan sebagai perkampungan, ladang, dan lahan produksi yang menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 120 rumah tangga.

Namun perjuangan semacam itu tidak berhenti pada redistribusi tanah semata. Tanah yang berhasil dikuasai rakyat harus mampu menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Di situlah pentingnya tata kuasa, tata guna, tata produksi, tata distribusi, hingga tata konsumsi.

Siapa yang menguasai tanah? Untuk siapa hasil produksi digunakan? Bagaimana distribusi hasil dilakukan? Siapa yang menikmati keuntungan pembangunan? Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan inti dari reforma agraria sejati. Tanpa itu, reforma agraria hanya akan berhenti sebagai seremoni pembagian sertifikat tanpa perubahan mendasar terhadap struktur ketimpangan.

Komunitas Golat Simbolon tampaknya memahami hal tersebut. Mereka tidak berhenti pada perebutan tanah. Mereka mulai membangun sistem kehidupan di atas tanah itu. Tanah dibagi secara adil kepada anggota komunitas dalam sekitar 120 persil. Embung dibangun agar pertanian bertahan. Jembatan dibuat untuk mempermudah akses masyarakat. Produksi pertanian diperkuat agar tanah perjuangan benar-benar menjadi sumber penghidupan kolektif.

Menjelang siang, matahari mulai terasa terik. Ritual selesai. Batu pertama telah diletakkan. Sebagian masyarakat mulai menyiapkan makanan. Anak-anak berlarian di sekitar lokasi pembangunan. Beberapa pemuda mengangkat cangkul dan mulai membersihkan tanah.

Namun ada sesuatu yang tertinggal kuat pagi itu: bahwa di tengah dunia yang semakin percaya pada beton, angka pertumbuhan ekonomi, dan proyek-proyek besar, masih ada komunitas yang percaya pembangunan harus dimulai dengan mendengar tanahnya sendiri.

Golat Simbolon mungkin hanya sebuah komunitas kecil di atas perbukitan. Tetapi dari tempat itu mereka sedang menunjukkan sesuatu yang sering dilupakan negara: rakyat sebenarnya tahu bagaimana mereka ingin hidup.

Dukungan dari lembaga pendamping hanyalah stimulus tanpa menghilangkan semangat gotong royong masyarakat. Untuk pembangunan embung, misalnya, anggota komunitas telah menyusun konsep pengerjaan dengan membagi anggota ke dalam kelompok-kelompok kecil yang bekerja secara bergiliran setiap hari. Seluruh anggota terlibat dan menargetkan proses pembangunan selesai dalam dua bulan ke depan.

Mereka tahu apa yang dibutuhkan tanah mereka. Mereka tahu bagaimana menjaga hutan. Mereka tahu bagaimana membangun tanpa menghancurkan hubungan dengan alam dan leluhur. Yang sering tidak tahu justru mereka yang datang membawa kuasa.

Terlalu lama pembangunan dipahami sebagai sesuatu yang harus diturunkan dari atas, seolah rakyat hanyalah objek yang tinggal menerima. Padahal sejarah menunjukkan, banyak pembangunan gagal justru karena tidak pernah tumbuh dari kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Pagi itu, di bawah cahaya matahari dan aroma darah ritual yang masih tersisa di tanah merah, masyarakat menyaksikan sesuatu yang tak pernah tercantum dalam rancangan pembangunan mana pun: hubungan manusia dengan tanah yang mereka pijak.

Penulis:

Angela Manihuruk

Bona Tua Purba

Artikel Sebelumnya

Serikat Tani Aceh Utara dan Serikat Tani Kabupaten Samosir Saling Belajar dan Menguatkan Perjuangan Agraria

Related Articles

Stks1

STKS dan KSPPM Dorong DPRD Samosir Priritaskan Ranperda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

15 Mei 2026
RRR_3960

Ensuring Indigenous Voices

11 Mei 2026
Kunjungan Baleg

Baleg DPR RI Serap Aspirasi Masyarakat Adat di Sumatera Utara dalam Penyusunan RUU Masyarakat Adat

9 Mei 2026

KUHP Baru: Potensi Kriminalisasi dan Penyempitan Ruang Sipil

5 Maret 2026
Krisis Air Bersih di Tengah Kelimpahan Danau Toba

Krisis Air Bersih di Tengah Kelimpahan Danau Toba

2 Februari 2026

Menjaga Lingkungan Sebagai Wujud Tanggung Jawab Iman

14 Desember 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat. Pada tahun 1984, pendahulu kami sangat prihatin dan peduli terhadap realitas kemiskinan, pelanggaran dan kekerasan terhadap hak asasi manusia, serta dampak buruk yang ditimbulkan pembangunan di Indonesia…Selengkapnya 

  • Girsang 1, Kec. Girsang Sipangan Bolon, Kab. Simalungun - Parapat, Sumatera Utara 21174
  • pksppm@yahoo.com
  • +0625 42393
Facebook Instagram X-twitter Youtube

Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat. Pada tahun 1984, pendahulu kami sangat prihatin dan peduli terhadap realitas kemiskinan, pelanggaran dan kekerasan terhadap hak asasi manusia, serta dampak buruk yang ditimbulkan pembangunan di Indonesia…Selengkapnya 

  • Girsang 1, Kec. Girsang Sipangan Bolon, Kab. Simalungun - Parapat, Sumatera Utara 21174
  • pksppm@yahoo.com
  • +0625 42393
Facebook Instagram X-twitter Youtube
© Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat - KSPPM. All Rights Reserved.
Home
Home
Buletin
Buletin
Channel
Channel
Explore
Explore
No Result
View All Result
en English id Indonesian
  • Beranda
  • Profile
    • Visi dan Misi
    • Profil KSPPM
    • Tentang KSPPM
    • Struktur Organisasi
    • Pelaksana Program
    • Staff
    • Badan Pendiri
  • Berita
    • Samosir
    • Toba
    • Tapanuli Utara
    • Humbahas
    • Liputan Media
    • Wilayah Lainnya
  • Buletin Prakarsa